5 Mitos dan Fakta Seputar Mengkonsumsi Telur

makan-telur Sudah sejak lama kita mendengar informasi bahwa mengkonsumsi telur dapat menyebabkan bisulan, meningkatkan kolesterol tubuh dan berbagai informasi lainnya seputar telur yang menciptakan mitos negatif mengenai mengkonsumsi telur. Berbagai mitos tersebut membuat sebagian orang ragu dan enggan untuk mengkonsumsi telur. Padahal telur merupakan salah satu sumber protein hewani penting yang relatif murah dan mudah didapat. Kandungan protein, lemak, dan mineral yang terkandung di dalam telur dapat mencukupi kebutuhan berbagai nutrisi penting.

Namun benarkah berbagai mitos seputar mengkonsumsi telur tersebut? Berikut ini 5 mitos tentang telur dan fakta sebenarnya.

Mitos #1: Makan telur menyebabkan bisul

Sudah dari zaman nenek moyang kita mendengar informasi bahwa dengan mengonsumsi telur, kita akan mendapati bisul di tubuh kita. Sehingga, beberapa orang kemudian membatasi diri untuk tidak mengonsumsi telur karena ketakutannya dengan bisul. Benarkah hal tersebut? Sayangnya, pernyataan mengenai makan telur menyebabkan bisul, hanyalah mitos.

Seseorang yang alergi telur pun tidak mendapati bisul ketika ia mengonsumsinya. Studi dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry pun menyebutkan gejala terhadap seseorang yang alergi dengan putih telur adalah sakit kepala, mual, ruma kemerahan di kulit, bukan bisul.

Hingga kini juga belum ditemukan penelitian mengenai hubungan antara mengonsumsi telur dengan bisul. Lalu, apa itu bisa dan bagaimana bisul dapat muncul? Sebenarnya bisul merupakan peradangan pada kulit yang terlokalisasi (biasanya terjadi di folikel rambut). Nanah pada bisul timbul karena hasil “pertempuran” antara sel darah putih dengan bakteri penyebab bisul. Penyebab adanya bisul yang paling memungkinkan pun dikarenakan adanya pori-pori yang tersumbat (akibat keringat yang mongering) atau adanya benda asing yang masuk ke dalam kulit.

Mitos #2: Telur mentah atau separuh matang mengandung lebih banyak nutrisi

Makan telur mentah atau separuh matang diyakini memberi manfaat lebih karena bentuk kolesterolnya masih belum teroksidasi, ini hanyalah sebuah mitos. Faktanyanya, oksidasi kolesterol telur selama proses memasak sebenarnya minimal, dan akan jauh berkurang jika dimasak pada suhu rendah.

Makan telur mentah juga dipercaya dapat membantu  mencegah hormon lutein dan zeaxanthin yang penting bagi kesehatan. Namun, penelitian yang dimuat American Journal of Clinical Nutrition danJournal of Nutritionmenunjukkan bahwa makan telur yang dimasak juga dapat meningkatkan kadar lutein dan zeaxanthin dalam darah. Selain itu, telur mentah mengadung avidin. Protein ini dapat mengikat dan mencegah penyerapan nutrisi penting dalam tubuh, misalnya biotin. Memasak telur akan menonaktifkan avidin, dan memastikan nutrisi terserap sempurna.

Walapun hanya 1 dari 10 ribu telur terkontaminasi salmonella, proses memasak dapat mematikan segala kuman yang mungkin saja ada di dalam telur. Dengan proses pemasakan,  telur tentu akan lebih sehat dan aman dikonsumsi.

Mitos #3: Telur meningkatkan kolesterol

Masalah ini sempat menimbulkan perdebatan karena telur dapat mengandung hingga maksimal 200 miligram kolesterol pada satu kali penyajian. Asupan kolesterol yang berlebih dikhawatirkan mengganggu kesehatan jantung. Tetapi faktanya, konsumsi makanan berkolesterol tidak serta merta akan meningkatkan kadar kolesterol setinggi yang dibayangkan. Menurut penelitian, hanya sekitar 30 persen saja orang akan mengalami kenaikan kadar kolesterol setelah mengonsumsi makanan berkolesterol.

Hal ini juga didukung penelitian para ahli dari Harvard terhadap 100 ribu responden. Riset membuktikan, konsumsi telur tidak meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Bahkan riset  dari University of Connecticut menemukan, makan 3 telur per hari menjadi bagian dari upaya membatasi asupan karbohidrat dan meningkatkan asupan kolesterol baik (HDL) dalam tubuh.

Mitos #4: Makan Telur bikin gendut

Mungkin Anda pernah mendengar kalau telur mengandung 60 persen kalori yang berasal dari lemak. Namun, konsumsi telur sebenarnya tidak akan membuat gemuk. Pasalnya telur merupakan makanan yang dapat digunakan untuk penurunan berat badan. Satu butir telur hanya mengandung 70 kalori, yang seimbang dengan 6 gram protein dam 5 gram lemak. Kombinasi protein dan lemak dapat meningkatkan produksi “hormon kenyang”. Protein dalam telur juga menyebabkan tubuh melepaskan glukagon, yang merangsang tubuh melepas dan menggunakan cadangan karbohidrat dan lemak.

Mitos #5: Cuma boleh makan putih telur, hindari kuningnya

Putih telur hanya mengandung 3,5 gram protein. Nutrisi lain seperti protein dan lemak, ada di dalam kuning telur sehingga kuning telur menjadi bagian yang paling bernutrisi. Kuning telur mengandung 240 miligram leucine, asam amino berantai tunggal yang memengaruhi genetik pembangun otot. Kuning telur juga mengandung kolin, yang berguna untuk fungsi membran sel. Selain itu, masih ada kolesterol, yang merupakan penyusun berbagai hormon, vitamin A, vitamin D, dan vitamin E. Kuning telur juga kaya omega 3, apalagi jika ayamnya diberi makanan yang mengandung asam amino serupa. Telur akan menghasilkan 150 miligram omega 3 yang kaya DHA.

Itulah 5 mitos seputar mengkonsumsi telur, semoga informasi ini dapat menghilangkan keraguan Anda untuk menjadikan telur sebagai bagian dari sumber nutrisi yang masuk dalam hidangan Anda sehari-hari. Namun Anda juga harus menyeimbangkan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan tubuh karena apapun makanan dan nutrisi yang Anda konsumsi, apabila melebihi kebutuhan tubuh akan menimbulkan dampak negatif bagi tubuh Anda. Jadi, konsumsilah makanan yang bergizi seimbang.

Sumber Bacaan:
1. Livestrong.com
2. Kompas.com
3. Nationalgeographic.co.id

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>