Negara dan Masyarakat Harus Berinvestasi pada Kesehatan Jiwa

251Mobil-Pelayanan-Kesehatan-Jiwa

Menurut data Mental Health Atlas WHO 2014, ada kesenjangan besar pada pelayanan kesehatan mental. Hampir setengah populasi dunia tinggal di negara di mana terdapat kurang dari 1 psikiater untuk menangani 100.000 orang. Sedangkan di negara kaya, perhitungannya satu psikiater banding 2000 orang. Sumber daya yang didedikasikan untuk kesehatan mental baik dana maupun sumber daya manusianya masih sangat kecil di seluruh dunia. Untuk itu, WHO merekomendasikan baik kepada negara maju ataupun berkembang agar mulai berinvestasi pada kesehatan warganya.

Situasi Investasi Kesehatan Jiwa di Indonesia

Kondisi yang sama juga terlihat kentara di Indonesia. Tingginya prevalensi masalah kesehatan jiwa (Keswa) di Indonesia, ternyata tidak diikuti oleh tingginya penggunaan layanan Keswa. Sumber daya Keswa di Indonesia juga masih terbatas. Hal ini mengindikasikan belum terpenuhinya kebutuhan (unmet needs) layanan Keswa. Padahal, masalah ini memiliki dampak yang besar terhadap pembiayaan kesehatan secara umum dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama berbagai pihak untuk bersama-sama berinvestasi di bidang kesehatan jiwa.

Sasaran investasi terutama adalah pada sumber daya manusia untuk kesehatan jiwa, baik keluarga, masyarakat, juga tenaga kesehatan, agar dapat meningkatkan akses layanan keswa; memberikan pelayanan keswa berkualitas; meningkatkan upaya promosi dan prevensi masalah kesehatan jiwa; dan memberikan perlindungan HAM penderita gangguan jiwa.

Tujuan dari Investasi tersebut adalah untuk menurunkan beban negara (dan masyarakat) dengan meningkatnya produktivitas kerja; menurunnya biaya pengobatan; kualitas hidup dan kesehatan yang lebih baik; meningkatnya kesadaran dan peran serta masyarakat tentang kesehatan jiwa; serta dengan menurunnya prevalensi gangguan jiwa.

Kompleksnya masalah sumber daya dalam pelayanan keswa bertambah berat ketika bercampur aduk dengan perilaku dan sikap masyarakat terhadap masalah keswa. Banyak penderita masalah keswa tidak menyadari bahwa ia sedang memiliki masalah kejiwaan. Stigma dan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang Keswa juga ditengarai merupakan penyebab bertambah beratnya situasi ini. Karena itu, diperlukan suatu model layanan yang efektif, akses yang mudah dan dapat diterima, baik untuk penatalaksanaan maupun untuk pencegahan, serta upaya Komunikasi Edukasi dan Informasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Peningkatan Peran Puskesmas dalam Upaya Kesehatan Jiwa dan Tantangannya

Peningkatan layanan kesehatan jiwa yang terjangkau dengan akses yang mudah sangat diperlukan. Selain itu, partisipasi Puskesmas sebagai ujung tombak layanan kesehatan di masyarakat dapat meningkatkan jumlah penderita gangguan jiwa yang terlayani. Pelayanan Keswa yang dapat dilakukan di Puskesmas, meliputi skrining rutin kesehatan jiwa pada pasien; psikoedukasi; serta intervensi layanan kesehatan jiwa dasar dan berjenjang (sistim rujukan).

Namun, pelayanan di fasilitas kesehatan primer ini memiliki keterbatasan yaitu beban yang besar dengan jumlah tenaga terbatas; ketidakpatuhan terhadap terapi; dan stigma terhadap obat-obat psikotropik; serta kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat kepada penyedia layanan yang cukup besar.

Layanan Keswa di fasilitas kesehatan dasar tidak akan berhasil keberlangsungannya tanpa ada program pemberdayaan keluarga dan masyarakat termasuk kerja sama lintas sektor. Oleh karena itu, dukungan dari semua elemen masyarakat sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan investasi kesehatan jiwa.

Sumber Bacaan:
1. Kementerian Kesehatan RI (2011). Pentingnya Investasi Di Bidang Kesehatan Jiwa
2. Foxnews.com

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>