Hospitalisasi Pada Anak, Apa Peran Nursing Pediatric?

hospitalisasi-pada-anak

Penulis: Riska Dwi Candrawati, S. Kep., Ns (Perawat Instalasi Rawat Inap Anak RSUD Indrasari Rengat)

Hospitalisasi merupakan keadaan dimana seseorang dalam kondisi yang mengharuskan untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk mengatasi masalah kesehatannya. Menurut Wong (2008), hospitalisasi merupakan keadaan dimana orang sakit berada pada lingkungan rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dalam perawatan atau pengobatan sehingga dapat mengatasi atau meringankan penyakitnya.

Hospitalisasi pada anak dapat menyebabkan kecemasan dan stress (Nursalam, 2005). Kecemasan terjadi karena perpisahan, kehilangan kontrol, ketakutan tentang tubuh yang disakiti, serta nyeri. Menurut Supartini (2004), perasaan cemas dan ketakutan tersebut timbul karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya, rasa tidak aman dan nyaman serta perasaan kehilangan. Kondisi seperti ini kemungkinan sekali anak akan mengalami gangguan perkembangan.

Dampak hospitalisasi pada anak-anak berbeda-beda, tergantung dari perkembangan usia, pengalaman sakit dan dirawat di rumah sakit, tersedianya orang yang mendukung, keseriusan diagnosa, serta keterampilan koping dalam mengatasi stress. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi respon anak yang sakit ketika dirawat di rumah sakit:

Perkembangan usia

Reaksi anak terhadap sakit berbeda-beda, sesuai tingkat perkembangan anak (Supartini, 2004). Usia menunjukkan manifestasi khusus, seperti bayi yang menangis dengan keras dan protes terhadap perpisahan dengan orang tua, dan todler yang menendang, mengigit, dan/atau meninju untuk protes terhadap kehilangan otonomi (Potter, 2008).

Pola asuh keluarga

Pola asuh keluarga yang terlalu protektif dan memanjakan anak mempengaruhi rekasi takut dan cemas anak dirawat di rumah sakit. Berbeda dengan keluarga yang memandirikan anaknya untuk aktivitas sehari-hari, anak akan lebih kooperatif bila dirawat di rumah sakit.

Keluarga

Keluarga yang terlalu khawatir atau stress anaknya yang dirawat di rumah sakit sebenarnya malah akan menyebabkan anak menjadi semakin stress dan takut. Ketersediaan dan keingnan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak mereka ditentukan saat penerimaan. Orang tua didorong untuk tetap tinggal dengan anak-anak yang masih muda selama mungkin sehingga perilaku perpisahan diminimalkan (Pottter, 2008).

Pengalaman dirawat di rumah sakit sebelumnya

Apabila anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dirawat di rumah sakit sebelumnya, akan menyebabkan anak takut dan trauma. Sebaliknya apabila anak dirawat di rumah sakit mendapatkan perawatan yang baik dan menyenangkan, anak akan lebih kooperatif pada perawat dan dokter (Supartini, 2004).

Support system yang ada

Kesediaan orang tua untuk tinggal bersama anak yang dirawat bergantung pada keterlibatan mereka dengan anak-anak dii rumah, situasi kerja mereka, dan tingkat rasa nyaman mereka dengan rumah sakit, serta jumlah dukungan yang mereka terima dari anggota keluarga lainnya. Berdasarkan informasi yang diberikan orang tua, perawat membantu keluarga merencanakan dukungan mereka terhadap anak selama masa hospitalisasi (Potter, 2008).

Menanggapi besarnya permasalahan akibat dampak hospitalisasi pada anak tersebut, peran perawat pediatric sangat besar disini. Konseling keperawatan merupakan peran yang sering terlupakan oleh perawat. Memberikan kenyamanan dan dukungan melalui mempertahankan kehidupan sosial, budaya keluarga selama anak dirawat, juga merupakan hal-hal yang sering terabaikan oleh perawat. Hal-hal demikian lebih disebabkan oleh karena waktu yang dimiliki perawat lebih banyak dihabiskan untuk melaksanakan tugas-tugas rutin dimana tugas-tugas tersebut sebenarnya bukan merupakan tugas pokok perawat, misalnya tugas order dari profesi lain bahkan sampai urusan administrasi.

Tidak kalah pentingnya disini adalah dukungan dari manajemen rumah sakit dalam pengelolaan sumber daya kesehatannya serta memfasilitasi sarana yang dapat mendukung berlangsungnya kehidupan sosial anak seperti dalam keadaan biasanya semasa sehat. Implementasi sederhana adalah memberikan kesempatan bermain kepada anak yang sedang dirawat. Ruang rawat inap anak (bangsal anak) seharusnya memiliki program tersendiri dalam pengelolaan terapi bermain ini. Idealnya ruangan memiliki jadwal dan program khusus bermain. Jenis-jenis permainan disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Bermain atau yang lebih dikenal dengan terapi bermain sebenarnya tidaklah membutuhkan biaya yang banyak. Ketika rumah sakit tidak memiliki ruang khusus untuk bermain, diperlukan kreatifitas perawat untuk memanipulasi dengan memanfaatkan ruangan yang tidak terpakai atau mengkhususkan satu ruangan di dalam bangsal untuk dijadikan ruang bermain. Ruangan tersebut ditempeli dengan gambar-gambar menarik sesuai dengan idola anak-anak. Ruang bermain dapat diisi dengan alat-alat permainan, bahkan disediakan perpustakaan mini dengan menyediakan buku-buku bergambar, sehingga ruangan tersebut merupakan sarana rekreasi yang menyenangkan bagi anak-anak yang sedang dirawat.

Banyak hal kreatif lain yang dapat dilakukan perawat pediatric untuk mengatasi dampak hospitalisasi padaanak-anak yang dirawat ini. Untuk diingat rumah sakit merupakan lingkungan baru bagi anak dan tindakan-tindakan medis merupakan kejadian yang menakutkan dan bahkan dapat menimbulkan trauma.

DAFTAR PUSTAKA
1. Nursalam, 2005. Buku Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Salemba Medika, Jakarta.
2. Potter, P.A, 2008. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. EGC, Jakarta.
3. Supartini, 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. EGC, Jakarta.
4. Wong, 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. EGC, Jakarta.

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>