Mitos dan Fakta Seputar Kawasan Tanpa Rokok

mitos-kawasan-tanpa-rokok

Mitos 1

Merokok adalah Hak Asasi Manusia

Fakta 1

  1. Pasal 28H (1) UUD 1945 menyatakan bahwa “setiap orang memiliki hak asasi untuk hidup sehat dan lingkungan sehat.” Hal yang sama juga dinyatakan secara tegas dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia khususnya Pasal Paparan Asap Rokok Orang Lain yang melanggar hak asasi manusia.
  2. Kebijakan KTR tidak melarang orang merokok, tetapi mengatur dimana orang boleh merokok dan tidak boleh merokok.
  3. Kebijakan KTR dimaksudkan untuk melindungi anak-anak, perempuan dan kelompok rentan lainnya dari paparan asap rokok.
  4. Merokok bukanlah hak asasi manusia karena prinsip dasar hak asasi manusia adalah jika hak tersebut dicabut atau dihilangkan, maka orang tersebut tidak lengkap sebagai manusia utuh, contohnya hak hidup, hak mendapatkan pendidikan, dll.
  5. Keselamatan pekerja adalah yang utama. Kesehatan dan pekerjaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan sehingga ia bukan merupakan pilihan sehingga ia tidak bisa memilih bekerja saja tanpa sehat atau sehat saja tanpa bekerja. Penerapan KTR di tempat kerja mewujudkan dua hal itu sekaligus dengan lingkungan yang bersih dan sehat tanpa asap rokok.

Mitos 2

Jika KTR 100% diterapkan, industri jasa dan pariwisata akan rugi karena pelanggan akan turun.

Fakta 2

  1. Penelitian di banyak negara (Skotlandia, Norwegia, Brazil, dan Singapura) menunjukkan tidak ada efek ekonomi negatif dari pemberlakuan UU KTR. Bisnis tetap seperti biasa, ketika semua pelaku bisnis serempak melaksanakan komitmennya untuk menegakkan KTR.
  2. Indonesia (Jakarta) pada tahun 2012, tingkat hunian hotel Atlet Century di Senayan di Jakarta menunjukkan peningkatan dari semula 70,4% pada tahun 2009 menjadi 79,9% setelah diterapkannya peraturan KTR. Di sisi lain biaya perawatan kebersihan kamar menjadi lebih rendah (frekuensi pencucian AC, tirai, bed cover menjadi berkurang).
  3. Australia Selatan 1991-2001, Rasio omset restoran terhadap omset penjualan tetap (UU KTR 1999).
  4. New York City, penerimaan pajak bar dan restoran naik 8,7%, tenaga kerja sektor jasa naik > 10.000 orang.
  5. Davao City, rata-rata tingkat hunian hotel naik tiap tahun, 12,59% dalam 5 tahun setelah UU KTR (2002-2007).

Mitos 3

Asap rokok orang lain tidak tidak membahayakan kesehatan

Fakta 3

  1. Seluruh organisasi kesehatan dunia antara lain WHO, USCDC, Lembaga Penelitian Kanker Kemenkes RI menyimpulkan bahwa asap rokok orang lain terbukti menyebabkan ancaman yang serius dan penyebab utama penyakit dan kematian.
  2. Asap rokok orang lain (perokok pasif) merupakan asap bercampur antara asap dan partikel. Asap ini terdiri dari 7.000 senyawa kimia yang bercampur, termasuk didalamnya ditemukan suatu bahan-bahan yang ada di dalam suatu produk, seperti misalnya cat kuku (aseton), pembersih toilet (ammonia), racun tikus (sianida), pestisida (DDT) dan asap knalpot mobil (karbonmonoksida). Ratusan diantaranya adalah bahan beracun dan sedikitnya 69 diantaranya merupakan bahan penyebab kanker.
  3. Secara global, tembakau bertanggung jawab atas lebih ari 15% kematian laki-laki dan 7% kematian perempuan.
  4. Rokok menyebabkan kematian karena kanker paru-paru pada lebih dari 80% laki-laki dan hampir 50% perempuan.
  5. Perokok pasif diperkirakan menyebabkan kematian sekitar 600.000 kematian dini setiap tahunnya di dunia.
  6. Diperkirakan 700 juta anak-anak di dunia atau sekitar 40% dari jumlah keseluruhan anak-anak di dunia, terpapar asap rokok orang lain di dalam rumahnya.
  7. Di Indonesia, hampir 85% rumah tangga terpapar dari asap rokok, estimasinya adalah delapan perokok meninggal karena perokok aktif, satu perokok pasif meninggal karena terpapar asap rokok orang lain. Berdasarkan perhitungan rasio ini maka sedikitnya 25.000 kematian dikarenakan terpapar asap rokok orang lain di Indonesia.
  8. Bayi yang terpapar asap rokok, baik masih dalam kandungan atau setelah dilahirkan, ada peningkatan risiko kelahiran bayu prematur dan memiliki Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) serta berlipat ganda risiko untuk sindrom kematian bayi mendadak. Dihitung berdasarkan anak-anak yang terpapar asap rokok orang lain, terdapat 50-100% risiko untuk terjangkit penyakit sistem pernafasan dan peningkatan akibat penyakit infeksi telinga.
  9. Studi yang dilakukan di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan membuktikan bahwa zat beracun yang dihisap perokok maupun non perokok terbukti sama besarnya.
  10. KTR 100% mengurangi secara cepat gejala gangguan pernafasan. Di Skotlandia, pekerja bar melaporkan penurunan 26% gejala penyakit saluran pernafasan setelah 3 bulan menerapkan KTR.

Mitos 4

Tidak perlu LEGISLASI untuk KTR, kebijakan sukarela sudah cukup

Fakta 4

  1. Industri rokok selalu mempromosikan agar tidak ada aturan soal merokok. Dengan tidak ada aturan sebenarnya tidak ada perlindungan publik atas kesehatan dari paparan asap rokok. Oleh karena itu, hanya dengan membuat aturan yang sederhana, tegas dan efektif, dapat dilaksanakan, dan komprehensif yang dapat memastikan terciptanya udara yang bersih di tempat umum
  2. Legislasi yang bagus sekalipun belumlah cukup. Untuk itu, diperlukan penegakan aturan, pelaksanaan yang konsisten serta monitoring/pengawasan sehingga terwujud udara bersih di tempat umum
  3. Asap rokok itu mematikan! Paparan asap rokok yang mengandung zat beracun kepada manusia harus ditanggulangi melalui pendekatan hukum
  4. Dalam seluruh aturan internasional dan nasional yang terkait kesehatan telah mengatur soal perlindungan semua orang dari zat-zat yang berbahaya. Dengan demikian, pembuatan aturan sangat dibutuhkan
  5. Sebuah penelitian di Amerika dan eropa menunjukkan bahwa aturan yang melarang merokok di tempat umum, bar, restoran, tempat kerja terbukti menurunkan 10% angka kelahiran prematur (Lancet, Maret 2014). Berdasarkan studi ini, jika menginginkan angka kematian bayi menurun, maka harus dibuat aturan hukum tentang larangan merokok.

Mitos 5

Pembuatan ruang merokok di dalam gedung tertutup, tambahan ventilasi dan pemisahan “smoking” dan “non smoking area” dapat memberikan perlindungan

Fakta 5

  1. Asap rokok merupakan penyebab utama polusi udara di ruangan tertutup. Padahal asap rokok terbukti memiliki 7.000 zat berbahaya. Sebuah studi di Jakarta menunjukkan bahwa tempat-tempat dalam gedung dimana orang boleh merokok, mengandung partikel kecil disebut menjadi Particulate Matter (PM2,5) sebanyak lebih dari 4 kali lipat dibandingkan gedung dimana tidak terdapat orang merokok. Berdasarkan studi ini, maka pembuatan ruang khusus di dalam gedung tidak menurunkan tingkat bahaya asap rokok terhadap kesehatan. Dengan demikian, di dalam ruangan/gedung tertutup tidak boleh ada ruangan merokok.
  2. Bukti ilmiah dari The American Society oh Heating, Refrigerating and Air Conditioning Engineers (ASHRAE) dan Occupational Safety & Health Administration (OSHA) menunjukka: teknologi ventilasi dan filtrasi udara tidak mampu mengeliminasi partikel kecil (PM2,5) dan gas yang dibawa oleh asap rokok.
  3. Pengakuan/dokumen internal industri rokok
  4. Philip Morris mengakui bahwa sistem ini tidak melindungi kesehatan. “Apakah karena teknologinya yang kuno?”. Ventilation Consultant Philip Morris USA, George Benda mengatakan teknologi apapun sama saja.
  5. BAT: Dokumen internal BAT menyatakan bahwa sistem ventilasi tidak efektif, tetapi tetap menganjurkan untuk menangkal larangan merokok di dalam gedung, di seluruh dunia.

Mitos 6

Kalau orang tidak boleh merokok di tempat umum, mereka akan lebih banyak merokok di rumah yang justru membahayakan anak-anaknya

Fakta 6

  1. Studi membuktikan bahwa peraturan tentang KTR akan menurunkan paparan anak terkena asap rokok orang lain. Aturan tentang rokok juga mendorong orang dewasa untuk berhenti merokok. Ketika orang dewasa jarang merokok, maka paparan asap rokok orang lain terhadap anak-anak juga akan menurun. Aturan tentang KTR juga mendorong orang untuk memberlakukan rumah bebas asap rokok
  2. Kebijakan KTR ini telah menurunkan perokok pasif dalam rumah sebanyak 7% yaitu menurun dari 85% di tahun 2010 menjadi 78% di tahun 2012
  3. Data yang hampir mirip setelah diterapkan kebijakan KTR di tempat umum seperti di Australia dan New Zealand, proporsi jumlah rumah yang bebas asap rokok naik menjadi 2 kali lipat. Hal yang sama juga terjadi di Amerika Serikat.

Mitos 7

Kebijakan KTR tidak/belum tepat untuk Indonesia

Fakta 7

Prevalensi merokok di Indonesia 36,3% dan prevalensi perokok pria sebesar 68,8% (data tahun 2013) 2/3 penduduk berada dalam risiko bahaya akibat paparan asap rokok orang lain. Data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011 dan Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2009, menunjukkan bahwa 51,3% orang dewasa terpapar asap rokok orang lain (AROL) di tempat kerja, 78,4% orang dewasa terpapar AROL di rumah, 85,4% orang dewasa terpapar AROL di restoran, 68,8% remaja (13-15 tahun) terpapar AROL di rumah, dan 78,1% remaja (13-15 tahun) terpapar AROL di ruang rumah. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia dalam kondisi darurat paparan asap rokok, sehingga kita sangat membutuhkan aturan tentang KTR.

Mitos 8

Kebijakan KTR belum populer, masyarakat pada umumnya tidak menginginkannya

Fakta 8

  • Kebijakan KTR sangat populer di banyak negara. Semakin hari semakin banyak orang menyadari haknya untuk mendapatkan haknya untuk mendapatkan udara yang bersih dan sehat.
  • 30 negara menerapkan KTR. Irlandia, New Zealand, Panama, Inggris, Uruguay, Turki menerapkan KTR 100%. Dengan kesungguhan dan penegakan hukum yang baik, tingkat kepatuhan 94-98%.
  • Di Indonesia, KTR 100% sangat populer. Lebih dari 90% responden di 8 kota di Indonesia mendukung adanya aturan 100% yang dapat melindungi kesehatan masyarakat.

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>