Mencegah Tenggelam Pada Anak dan Upaya Penanganan Korban Nyaris Tenggelam

korban-tenggelam

Menurut data registri penyebab kematian tahun 2011-2015, di Indonesia sebagian besar kasus tenggelam terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun. Anak usia di bawah 5 tahun menempati tingkat kematian tertinggi akibat tenggelam di seluruh dunia, bahkan tenggelam merupakan penyebab kematian nomor 3 pada kelompok umur 5-14 tahun setelah kecelakaan lalu lintas dan demam berdarah. Hampir 80% korban meninggal akibat tenggelam adalah laki-laki.

Upaya pengendalian yang utama adalah mencegah dan menghindarkan masyarakat dari faktor risiko yang menyebabkan terjadinya tenggelam khususnya pada anak-anak. Selanjutnya diikuti dengan upaya sosialisasi dan pengawasan terhadap anak. Keberhasilan upaya tersebut sangat membutuhkan pemahaman, kesadaran dan peran aktif masyarakat.

Apa saja faktor risiko tenggelam?

1. Umur

Sebagian besar kejadian tenggelam sering terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun, dan kejadiannya menurun seiring dengan bertambahnya usia. Anak usia di bawah 5 tahun menempati tingkat kematian tertinggi di seluruh dunia. Tenggelam merupakan penyebab kematian nomor tiga pada kelompok usia 5-14 tahun setelah kecelakaan lalu lintas dan demam berdarah.

2. Jenis kelamin

Hampir 80% korban meninggal akibat tenggelam adalah laki-laki.

3. Akses terhadap air

Kondisi lingkungan di sekitar air mempengaruhi kemudahan maupun hambatan akses ke air seperti kolam, danau, waduk, sungai, pantai, saluran air, galian pasir, sumur, dll. Semakin mudah akses ke air akan meningkatkan risiko kejadian tenggelam.

4. Bencana banjir

Kondisi geografis kepulauan Indonesia pada musim penghujan dapat menyebabkan bencana banjir. Bencana banjir tersebut dapat menimbulkan korban jiwa akibat tenggelam.

5. Transportasi air

Indonesia sebagai negara maritim memiliki banyak tranportasi air. Kondisi transportasi air yang tidak aman seperti tidak laik berlayar, tidak dilengkapi dengan alat-alat keselamatan, kelebihan muatan dan faktor cuaca buruk menjadi penyebab terjadinya kecelakaan transportasi air.

6. Mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang

Hal ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran maupun gangguan fungsi tubuh lainnya sehingga mempengaruhi kemampuan konsentrasi, koordinasi/keseimbangan, dan refleks/kewaspadaan seseorang saat berenang.

7. Epilepsi/ayan

Hasil penelitian dan pengalaman di berbagai negara, anak dengan epilepsi memiliki risiko lebih besar mengalami tenggelam di kolam renang atau kamar mandi, dibandingkan dengan anak tanpa epilepsi.

8. Kurangnya pengawasan

Hasil penelitian di beberapa negara menunjukkan hampir seluruh kejadian tenggelam terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan kondisi konsentrasinya terganggu.

Tips Mencegah Terjadinya Tenggelam

  1. Anak-anak perlu belajar berenang sejak usia dini sehingga dapat mencegah terjadinya tenggelam
  2. Ajarkan anak-anak berenang dengan beberapa aturan kunci:
  • Jangan berenang sendirian
  • Jangan menyelam ke dalam air yang tidak diketahui kedalamannya
  • Yakinkan bahwa bagian tubuh yang pertama masuk ke dalam kolam adalah kaki
  1. Apabila meninggalkan anak di rumah, toilet harus ditutup
  2. Pastikan anak tahu bahwa toilet bukan tempat mainan
  3. Jangan membiarkan anak-anak berendam sendirian di bak mandi atau di kolam renang
  4. Jangan biarkan anak-anak bermain di sekitar wadah air (ember, kontainer, bak mandi) yang terisi tanpa pengawasan.
  5. Pastikan kolam dipagari dan memiliki kunci, jangan biarkan anak diluar pengawasan Anda saat Anda melakukan pekerjaan halaman atau kegiatan outdoor lainnya, terutama pada sumur terbuka, irigasi atau drainase parit yang berada di sekitarnya.
  6. Jangan bercanda berlebihan di tempat-tempat berisiko seperti kolam, galian-galian, sungai, danau, dan laut.
  7. Jangan menimpa teman pada saat melompat ke dalam air
  8. Mengawasi anak pada saat menggunakan alat bantu renang tiup (seperti ban pelampung plastik dan sayap air) karena bisa mengempis.
  9. Pastikan pelampung anak dalam keadaan mengembang/tidak bocor/kempes
  10. Lakukan gerakan pemanasan (pelemasan) sebelum dan sesudah berenang

Bagaimana Penanganan Korban Nyaris Tenggelam?

  1. Memastikan penolong mengetahui, memahami, dan dapat melaksanakan prinsip 3 Aman:
  • Aman diri sendiri: memastikan memakai alat pelindung diri (APD) dan mampu melakukan pertolongan
  • Aman lingkungan: memastikan ditempat kejadian aman dari bahaya misalnya terdapat binatang yang berbahaya, benda-benda berbahaya, dll
  • Aman korban: memastikan korban di tempat aman (sudah tidak di air)
  1. Bagi penolong yang tidak bisa berenang
  • teriak-tenggelamDapat meminta bantuan masyarakat sekitarnya dengan cara berteriak dan menghubungi ke nomor telepon darurat
  • Melemparkan benda-benda yang dapat mengapung ke arah korban seperti pelampung, tali, kelapa kering, botol plastik, jerigen/galon kosong tertutup, ban dalam terisi angin, dll
  • Mengulurkan galah/bambu/kayu panjang, tali , kemudian menarik korban ke darat atau ke tempat aman
  1. Bagi penolong yang bisa berenang
  • selamatkan-korban-tenggelamDapat meminta bantuan masyarakat sekitar dengan cara berteriak dan menghubungi ke nomor telepon darurat
  • Penolong mendekati korban dan menarik korban ke darat atau ke tempat aman
  • Menggunakan alat keselamatan (pelampung, galah/bambu, kayu panjang, tali, kelapa kering, botol plastik, jerigen/galon kosong tertutup, ban dalam terisi angin, sekoci, dll) untuk mendekati korban.
  1. Setelah korban dipindahkan ke tempat aman, segera mencari pertolongan dan dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat serta melaporkan ke pihak berwajib (polisi).

Sumber Bacaan:
Kemenkes RI. (2015). Buku Saku Pengendalian Tenggelam Pada Anak.

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>