Efektifitas Dressing Madu Terhadap Penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik: Literature Review

Candrawati, R.D., S.Kep., Ns.(RSUD Indrasari Rengat-Indragiri Hulu)1 Ardianto., S.Kep., Ns. (Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu).2

 ABSTRAK

Latar Belakang: Ketepatan metode penanganan mempengaruhi hasil akhir dari penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik. Salah satu bahan tradisional dan alami sebagai obat topical dan dressing adalah madu. Adapun tujuan dari review ini adalah untuk menilai dan mensintesis sumber literature yang terbaik tentang efektivitas dressing madu terhadap penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik.

Metode: Melakukan penelusuran publikasi ilmiah rancangan RCT terkait studi efektitifitas madu terhadap ulkus kaki diabetic dengan menggunakan kata kunci Diabetic Foot Ulcer, honey, dressing, wound healing.

Hasil: Didapatkan 2 (dua) artikel yang membandingkan dressing madu dengan dressing standar (povidone iodine). Hasil studi menunjukkan ada perbedaan efektivitas madu dan dressing standar terhadap lama penyembuhan luka, efek antibakteri, dan efisinsi biaya.

Kesimpulan: Dressing madu terbukti efektif terhadap penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik.

Kata Kunci: Dressing madu, dressing standar, povidone iodine, ulkus kaki diabetic.

Latar Belakang

Ulkus Kaki Diabetik merupakan luka dengan penetrasi yang dalam pada lapisan dermis kaki penderita diabetes. Ulkus kaki diabetic yang disertai infeksi merupakan sumber utama dari angka kesakitan pada penderita diabetes, tercatat 15% diantaranya dapat berlanjut dengan amputasi (Marineau, et al., 2011).  Lebih dari 50% luka diabetes dapat meningkatkan risiko amputasi di bawah lutut yang secara signifikan meningkatkan angka kematian disamping berkontribusi terhadap kualitas hidup yang buruk dan berdampak pada kehidupan sosial, psikologis, dan ekonomi penderita (Alam, et al, 2014).

Ketepatan metode penanganan ulkus mempengaruhi hasil akhir dari kesembuhan luka penderita. Saat ini banyak penelitian metode pengobatan pada Ulkus Kaki Diabetik difokuskan pada intervensi debridement bedah dan terapi bio-debridement. Intervensi yang paling efektif tidak terungkap karena keterbatasan jumlah dan kualitas studi. Perawatan ulkus menjadi intervensi utama untuk membantu pasien Ulkus Kaki Diabetik untuk menjaga status kesehatan yang relatif. Pemilihan dressing yang tepat adalah titik pangkal yang efektif untuk desinfeksi dan menghilangkan jaringan nekrotik ulkus, memodifikasi kondisi mikro luka, dan mempercepat penyembuhan luka (Tian, et al., 2014).

Salah satu bahan tradisional dan alami yang digunakan sebagai obat topical dan dressing adalah madu. Madu merupakan kumpulan nektar dari banyak tanaman, dan nektar ini diproses oleh lebah madu. Produk alami ini terkenal dengan nilai obat gizi dan profilaksisnya yang tinggi. Madu memiliki aktivitas antibakteri yang manjur dan efektif dalam mencegah dan membersihkan infeksi luka (Alam, et al., 2014). Dressing madu dapat memberikan lingkungan lembab dengan sifat antimikroba, memiliki efek anti-peradangan, mengurangi edema dan eksudat, mendorong angiogenesis serta pembentukan jaringan granulasi, menginduksi kontraksi luka, merangsang sintesis kolagen, debridemen fasilitas dan mempercepat epitelisasi luka (Tian, et al., 2014).

Penelitian tentang efek madu terhadap luka telah banyak dilakukan, namun dalam review ini mencoba menilai efektivitas dressing madu terhadap penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik berdasarkan literature-literatur yang telah dipublikasikan.

Metode

Tujuan Review
Tujuan dari review ini adalah untuk menilai dan mensintesis sumber literature yang terbaik tentang efektivitas dressing madu terhadap penyembuhan ulkus kaki diabetik.

Kriteria review
Tipe partisipan yang dipilih dalam review ini meliputi pasien Diabetes Type II yang mengalami Ulkus kaki. Tipe intervensi yang dimaksud dalam review ini adalah perawatan ulkus kaki diabetic dengan menggunakan dressing madu dibandingkan dengan metode konvensional ataupun penggunaan povidone iodine. Fokus dari hasil dalam review ini adalah penyembuhan ulkus kaki diabetik. Randomized Control Trial (RCT) merupakan rancangan penelitian yang diambil dalam review ini.

Strategi penelusuran.
Strategi dalam penelusuran ditujukan kepada jurnal publikasi yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Rentang waktu penelitian yang ditentukan dalam penelusuran ini adalah dari tahun 2008 hingga tahun 2017 dengan tujuan untuk mendapatkan hasil-hasil penelitian yang terbaru.
Penelusuran artikel dilakukan secara komprehensif, dengan menggunakan metode Boolean. Akses database yang ditelusuri meliputi Pubmed, Science Direct, dan Ebsco dengan menggunakan kata kunci Diabetic Foot Ulcer, honey, dressing, wound healing. Penelusuran dibatasi dengan menetapkan kriteria journal, all type, nursing and health profession. Dari 13 artikel yang diseleksi berpotensi digunakan untuk review, hanya 2 artikel saja yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Adapun secara rinci proses seleksi tergambar pada diagram 1.

2018-07-23_21-07-27

Pemeriksaan kualitas metodologi
Untuk meyakini kualitas artikel yang akan direview, maka dilakukan pemeriksaan realibiliti dan validasi internal dengan menggunakan JBI critical appraisal tools for RCTs seperti tergambar pada Tabel 1.

Hasil

Dua artikel yang termasuk dalam review ini meliputi:

  1. Manuka honey-impregnated dressings in the treatment of neuropathic diabetic foot ulcers (Kamaratoz, et al., 2012).
  2. A Comparative Study Between Honey and Povidone Iodine as Dressing Solution for Wagner Type II Diabetic Foot Ulcers (Shukrimi, et al., 2008).

Secara lebih detail kesimpulan dari karakteristik penelitian yang termasuk dalam review ini tergambar pada Tabel 2. Namun secara garis besar hasil penelitian dari 2 artikel yang dilakukan review adalah sebagai berikut:

2018-07-23_21-10-36

2018-07-23_21-12-332018-07-23_21-13-07

Kamaratoz, et al., (2012), melakukan penelitian eksperimen dengan acak terkontrol terhadap 2 kelompok penderita kulit putih yang menderita ulkus kaki diabetes type 2 (n=63). Peneliti membandingkan efektifitas Manuka Honey Impregnated Dressings (MHID) sebagai kelompok I (perlakuan) dan conventional dressing (CD) sebagai kelompok kontrol terhadap penyembuhan ulkus kaki diabetik neuropati. Pasien ditindaklanjuti setiap minggu selama 6 minggu.

Waktu penyembuhan rata-rata adalah 31 ± 4 hari pada kelompok I berbanding 43 ± 3 hari pada kelompok II (P <0, 05). Pada pasien kelompok I 78,13% ulkus menjadi steril selama minggu pertama dibandingkan 35,5% pasien kelompok II; Persentase kesamaan minggu 2, 4 dan 6 adalah 15,62% berbanding 38,7%, 6,25% berbanding 12,9% dan 0% berbanding 12,9%. Persentase penyembuhan ulkus tidak berbeda secara signifikan antara kelompok (97% untuk MHID dan 90% untuk CD). Antibiotik tidak diperlukan pada kelompok I, sementara kelompok II membutuhkan antibiotic selama tindaklanjut. Perbedaan waktu penyembuhan luka bermaksa secara statistic (p<0,05).

Shukrimi, et al., (2008) membandingkan efektifitas dressing madu dengan povidone iodine terhadap 30 pasien Melayu dengan ulkus kaki diabetic pada penderita NIDDM. Sebelum perlakuan dilakukan penilaian terhadap tekanan oksigen transkutan dan kultur darah.

Tekanan oksigen transkutan berkisar antara 36 mmHg – 42mmHg (rata-rata 39 mmHg). Organisme yang diisolasi sebelum perlakuan adalah Streptococcus sp. (30%), Staphylococcus sp. (16%), Pseudomonas (10%), Enterococcus (7%), Bacteroides (3%), Acinobacter (3%), Proteus (3%) dan Escherichia coli (3%). Infeksi polimikroba ditemukan pada (20%) pasien. 1 (3%) pasien tidak memiliki pertumbuhan dari kultur luka.

Kelompok yang menggunakan dressing madu, kultur luka yang sebelumnya positif Staphylococcus atau Streptococcus menjadi negatif pada akhir pengobatan. Luka yang mengandung Bacteroides, Enterococcus dan infeksi campuran pada kultur tetap positif. Durasi penutupan luka rata-rata 14,4 hari (kisaran 7- 26 hari). Edema membaik dan hilangnya bau lebih cepat bila dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Sedangkan kelompok yang menggunakan povidone iodine, kultur luka dengan Streptococcus, Staphylococcus, Acinobacter, Proteus dan Escherichia coli menjadi negatif pada akhir pengobatan. Luka yang terinfeksi Pseudomonas, Enterococcus dan organisme campuran tetap terinfeksi sampai akhir penelitian. Durasi penutupan luka rata-rata 15,4 hari (kisaran 9 – 36 hari). Secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna.

Dalam hal biaya dressing madu per pasien, dibutuhkan RM 12,00 untuk membeli sebotol madu 250 ml. Sebotol madu sudah cukup untuk dressing selama periode penelitian (antara 7 sampai 26 hari).

Diskusi

Pemilihan jenis dressing yang tepat menjadi kunci efektifnya monitor dan control perkembangan luka. Banyak pilihan dressingsaat ini, yang umum digunakan saat ini seperti povidone iodine, fungsional dressing seperti ionic silver dressing dan hydrocolloid dressing, serta madu yang digunakan untuk perawatan Ulkus Kaki Diabetic (Tian, et al., 2014).

Temuan dalam literature review ini menyatakan penggunaan dressing madu efektif memperpendek masa penyembuhan luka walaupun secara statistic perbedaan masa penyembuhan antara penggunaan madu dibandingkan jenis dressing lain tidak terlalu signifikan. Hasil yang sama ditunjukkan oleh Agarwal, et al., (2015), bahwa penggunaan dressing madu memiliki efektivitas lama penyembuhan luka lebih singkat dibandingkan dengan penggunaan povidone iodine. Selain itu rasa nyeri dan oedema di sekitar luka juga mengalami penurunan pada penggunaan madu sebagai dressing. Senada dengan penelitian Dubhashi dan Sindwani (2015), bahwa penggunaan dressing madu lebih mempercepat penyembuhan pada luka kronik serta efektif menghilangkan bau luka.

Dua studi RCT yang dilakukan review ini menunjukkan bahwa madu sebagai dressing untuk pasien Ulkus Kaki Diabetik memberikan efek pembersihan bakteri berbeda terhadap jenis bakteri pada masing-masing kelompok, namun menunjukkan bahwa efikasi pada kelompok dressing madu lebih baik daripada kelompok kontrol. Sebagai dressing luka, madu menyediakan lingkungan moist dengan khasiat antimikroba, memiliki efek anti peradangan, mengurangi edema dan eksudat, mendorong angiogenesis dan pembentukan jaringan granulasi, menginduksi kontraksi luka, merangsang sintesis kolagen, memfasilitasi debridement dan mempercepat epitelisasi luka (Tian, et al., 2014).

Sifat antibakteri madu dikaitkan dengan hipermosmolaritas dan tingkat keasaman. Hidrogen peroksida juga diproduksi pada pengenceran madu oleh aktivitas enzimatik oksidase. Selain sebagai antiseptik, H2O2 merangsang kemotaksis makrofag, menginduksi ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) sehingga meningkatkan angiogenesis dan merangsang proliferasi fibroblast sekaligus sebagai antioksidan yang melindungi lingkungan luka dari stres oksidatif (Kamaratoz, et al., 2014).

Efek tidak langsung dari penggunaan dressing madu ini adalah lebih ekonomis bila dibandingkan dengan obat topical yang lain. Hasil ini sejalan dengan Alam, et al, (2014), bahwa madu dapat digunakan sebagai agen penyembuhan yang lebih aman, lebih cepat, dan efektif untuk luka diabetes dibandingkan dengan obat sintetis lainnya dalam hal resistensi mikroba dan juga biaya pengobatan. Moghazy, et al., (2010) juga menyebutkan bahwa dressing madu memiliki biaya yang efektif untuk pengobatan luka ulkus diabetic di negara berkembang.

Keterbatasan dalam review ini adalah sulitnya menemukan jenis penelitian RCT terbaru tentang penggunaan dressing madu terhadap Ulkus Kaki Diabetik. Selain itu, dari 2 (dua) artikel yang direview, jumlah responden yang dilibatkan sedikit.

Kesimpulan

Hasil dari review ini mengindikasikan bahwa dressing madu efektif digunakan untuk penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik karena memiliki keunggulan dalam waktu penyembuhan luka, mampu berperan sebagai antibakteri serta efisien secara ekonomis. Namun demikian perlu penelitian lebih lanjut dengan melibatkan responden lebih banyak.

Referensi

Agarwal, S., Bhardwaj, V., Singh, A., Khan, M. H., Goel, S., et al., (2015). A Control Clinical Trial of Honey- Impregnated and Povidone Iodine Dressing in Treatment of Diabetic Foot Ulcer among Northern Indian Subjects. Indian J. Sci. Res. 6 (2): 7-10

Alam, F., Islam, M. A., Gan, S. A., Khalil, M. I., (2014). Review Article. Honey: A Potential Therapeutic Agent for Managing Diabetic Wounds. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. 2014 (169130): 1-16.

Dubhashi, S. P & Sindwani, P. D., (2015). A Comparative Study of Honey and Phenytoin Dressings for Chronic Wounds. Indian J Surg. 77 (Suppl 3): S1209–S1213.

Kamaratos, A. V., Tzirogiannis, K. N., Iraklianou, S. A., Panoutsopoulos, G. I., Kanellos, I. E., et al., (2012). Manuka Honey-Impregnated Dressings in The Treatment of Neuropathic Diabetic Foot Ulcers. International Wound Journal ISSN 1742-4801: 259-263.

Marineau, M. L, Herrington, M. T, Swenor, K. M, Eron, L. J. (2011). Maggot Debridement Therapy in The Treatment of Complex Diabetic Wounds. Hawaii Med J. 2011(70): 121-124 .

Moghazy, A. M., Shams., M.E., Adly, O. A, Abbas, A.H., El-Badawy,. M. A., et al., (2010). The Clinical and Cost Effectiveness of Bee Honey Dressing in The Treatment of Diabetic Foot Ulcers. Diabetes Research and Clinical Practice. 2010 (89): 276–281.

Tian, X., Yi, L. J., Ma, L., Zhang, L., Song, G. M., et al., (2014). Effects of Honey Dressing for The Treatment of DFUs: A systematic Review. International Journal of Nursing Sciences. 2014 (I): 224-231.

Shukrimi, A., Sulaiman A. R., Halim, A. Y, Azril, A. (2008). A Comparative Study Between Honey and Povidone Iodine as Dressing Solution for Wagner Type II Diabetic Foot Ulcers. Med J Malaysia. 63 (I) :44-46.

 

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>