PEMERIKSAAN VISUS MATA PADA ANAK SEKOLAH DAN ANAK PUTUS SEKOLAH

PEMERIKSAAN VISUS MATA PADA ANAK SEKOLAH DAN ANAK PUTUS SEKOLAH

UPTD Puskesmas Batang Peranap, April 2018 telah dilaksanakan pemeriksaan kesehatan mata ( Visus mata ) pada anak yang berumur 7 – 18 tahun, sehingga sasarannya adalah anak sekolah SD kelas 1 – 6 dan SMP kelas 7 – 9,  serta anak putus sekolah di wilayah kerja UPTD Puskesmas Batang Peranap Kec. Batang Peranap Kab. INHU. dari seluruh siswa – siswi dan anak putus sekolah yang hadir terdapat 45 anak yang mengalami gangguan pada mata atau tidak normal, dan selanjutnya datanya akan dikirim untuk mendapatkan kaca mata gratis yang akan diberikan oleh Universitas UGM ( Jogjakarta ).

  • Apa itu Visus mata ?

visus adalah ketajaman penglihatan. Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan untuk melihat ketajaman penglihatan.

  • Bagaimana cara pemeriksaannya ?

          Cara pemeriksaan mata pada anak – anak dan Siswa – siswi tersebut yakni petugas Puskesmas Batang Peranap menggunakan Snellen chart =>    kartu bertuliskan beberapa huruf dengan ukuran yang berbeda => untuk pasien yang bisa membaca.

s

Sebelum melakukan pemeriksaan, berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Orang yang diperiksa berada pada posisi 6 meter atau 20 kaki dari kartu snallen, karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan istirahat atau tanpa akomodasi;
  2. Kartu snellen diletakkan sejajar dengan mata orang yang diperiksa;
  3. Pastikan ruang tempat pemeriksaan cukup cahaya (tidak gelap dan tidak silau);
  4. Orang yang diperiksa tidak buta huruf (tau membaca huruf), jika yang bersangkutan buta huruf makan dapat menggunakan Echart atau menggunakan Cincin Landolt.
  5. Tidak melakukan pemeriksaan sendiri, artinya harus ada paling tidak 2 orang yaitu orang yang diperiksa dan pemeriksa yang bertugas mengarahkan orang yang diperiksa.
  6. Pemeriksa berdiri di samping kartu snellen.

Setelah semua persiapan pemeriksaan siap, maka mulailah lakukan pemeriksaan dengan cara sebagai berikut:

  1. Jika mata kanan yang akan diperiksa, maka orang yang diperiksa harus menutup mata sebelah kiri menggunakan tangan kiri dan memperhatikan instruksi yang diberikan oleh pemeriksa, begitu pula sebaliknya, jika mata kiri yang diperiksa maka mata kanan yang ditutup. Sebagai catatan, ketika menutup mata usahakan mata yang ditutup jangan ditekan agar tidak berdampak pada pemeriksaan mata yang sebelumnya ditutup.
  2. Pemeriksa menunjuk huruf-huruf yang ada pada kartu snellen, dari atas ke bawah atau dari huruf paling besar ke satu tingkat dibawanya dan dari kiri ke kanan pada baris huruf kemudian orang diperiksa menyebutkan huruf yang ditunjuk oleh pemeriksa. Jika terjadi ketidaksesuaian antara yang ditunjuk dengan yang di sebutkan, maka dapat diulangi hingga 3 kali untuk memastikan.
  3. Pemeriksa mencatat batas akhir huruf yang dapat terbaca.
  • Menafsirkan Hasil Pemeriksaan

Setelah melakukan pemeriksaan, maka kita menafsirkan hasil pemeriksaan atas ketajaman penglihatan orang yang diperiksa dengan ketentuan sebagai berikut:

A. Bila orang diperiksa tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas visus normal, cek pada 1 baris tersebut

  1. Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya terletak pada baris tersebut dengan false 1. Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada baris tersebut dengan false 2. Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf yang ada, berarti visusnya berada di baris tepat di atas baris yang tidak dapat dibaca.
  2. Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya terdapat pada baris di atasnya.

B. Snelleen chart yang yang digunakan dalam ukuran kaki = normalnya 20/20.

C. Jika orang diperiksa dapat membaca seluruh huruf pada baris ke 8. Berarti visus normal

D. Bila hanya dapat membaca huruf E, D, F, C pada baris ke 6 maka visus 20/30 dengan false 2. Artinya, orang normal dapat membaca pada jarak 30  kaki sedangkan orang diperiksa hanya dapat  membacanya pada jarak 20 kaki.

E. Bila orang diperiksa membaca huruf Z, P pada baris ke 6 maka visus 20/40;

F. Bila tidak dapat membaca huruf pada baris ke 6, cek baris ke 5 dengan ketentuan seperti di atas.

G. Bila tidak bisa membaca kartu, maka dilanjutkan dengan penghitungan jari.

H. Bila tidak bisa menghitung jari pada jarak tertentu, maka dilakukan pemeriksaan penglihatan dengan lambaian tangan.

I. Bila tidak bisa melihat lambaian tangan, maka dilakukan penyinaran.

J. Bila tidak dapat melihat cahaya, maka dikatakan visus 0.

 

 

 

 

Related Posts
Leave a reply