Penyakit Difteri: Penyebab, Faktor Risiko dan Cara Pencegahannya

C5Nkd2PWYAIRUuQ

Merebaknya kasus penyakit difteri di akhir tahun 2017 lalu memperingatkan kita bahwa penyakit difteri masih merupakan ancaman kesehatan yang sewaktu-waktu dapat meledak kasusnya jika tidak dilakukan upaya-upaya pencegahan menyeluruh dan berkesinambungan. Pengalaman buruk meningkatnya KLB difteri tahun 2017 lalu membuktikan pentingnya imunisasi difteri karena 66 % dari total kasus difteri tersebut didalami individu yang tidak melakukan imunisiasi, 31 % mendapatkan imunisasi, tetapi tak sampai tahap final dan hanya 3% kasus difteri terjadi pada individu yang telah mendapatkan imunisasi lengkap. Fakta tersebut membuktikan bahwa orang yang tidak mendapatkan imunisasi difteri atau tidak lengkap mendapatkan imunisasi sangat berisiko terjangkit penyakit difteri dan menularkannya ke orang lain.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DPT. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DPT.

Apa itu Difteri?

Corynebacterium diptheriae

Corynebacterium diptheriae

Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada selaput saluran pernafasan bagian atas, hidung dan kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Bagaimana Cara Penularannya?

Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan imunisasi difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:

  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Terkadang, difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Siapa saja yang berisiko terjangkit difteri?

Setiap orang dapat terjangkit difteri, namun ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena difteri, yaitu:

  • Tidak mendapat vaksinasi difteri
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS
  • Memiliki sistem imun lemah, misalnya anak-anak atau orang tua
  • Tinggal di kondisi yang padat penduduk atau tidak higienis

Apa saja tanda dan gejalanya?

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
  • Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi.

Bagaimana dokter mendiagnosis difteri?

Untuk mendiagnosis penyakit difteri, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfa). Apabila dokter melihat lapisan abu-abu pada tenggorokan dan amandel Anda, dokter dapat menduga Anda memiliki difteri. Dokter juga dapat menanyakan sejarah medis serta gejala yang Anda alami.

Namun, metode paling aman untuk mendiagnosis difteri adalah dengan biopsi. Sampel jaringan yang terpengaruh akan diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa dan mengkonfirmasi apakah itu bakteri difteri atau tidak.

Bagaimana pengobatan difteri?

Dokter akan segera menangani penyakit ini, karena difteri adalah kondisi yang sangat serius. Pertama, dokter akan memberi suntikan antitoksin, untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri. Jika alergi terhadap antitoksin, Anda perlu memberi tahu dokter agar dokter dapat menyesuaikan pengobatan.

Pada pasien dengan alergi, biasanya dokter akan memberi dosis antitoksin yang rendah dan meningkatkan kadar secara bertahap. Setelah itu, dokter akan memberikan antibiotik untuk membantu mengatasi infeksi. Setelah diberikan obat-obatan tersebut, dokter dapat merekomendasi dosis pendorong vaksin difteri setelah sehat, untuk membangun pertahanan terhadap bakteri difteri.

Normal apabila dokter meminta pasien untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah penyebaran penyakit.

Apa saja komplikasi yang ditimbulkan difteri?

Jika tidak diobati dengan tepat, difteri dapat mengakibatkan komplikasi yang berbahaya, dan bahkan bisa berujung dengan kematian. Beberapa komplikasi tersebut adalah:

  • Saluran napas yang tertutup
  • Kerusakan otot jantung (miokarditis)
  • Kerusakan saraf (polineuropati)
  • Kehilangan kemampuan bergerak (lumpuh)
  • Infeksi pary (gagal napas atau pneumonia)

Bagi beberapa orang, difteri bisa merenggut nyawa. Bahkan setelah diobati pun, 1 dari 10 penderita difteri biasanya meninggal dunia. Namun, jika tidak diobati, jumlah kematian bisa meningkat menjadi 1:2. Oleh karena itu, lakukan tindak pencegahan dan segera periksakan ke dokter saat gejala muncul.

Bagaimana pencegahan difteri?

Saat ini langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksinasi. Vaksin difteri tergabung dalam vaksin DPT yang meliputi difteri, pertusis dan tetanus. Vaksin DPT termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan sebanyak 5 kali yaitu pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, ditambah imunisasi booster saat usia satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan lagi booster dengan vaksin sejenis (Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal. Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup.

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>