Mengenal Gaming Disorder, Salah Satu Gangguan Perilaku yang Baru Ditetapkan WHO

Enjoy 01

Penting menjadi perhatian bagi Anda yang gemar menghabiskan waktu dengan bermain game, kini Anda harus mulai berhati-hati. Pasalnya, World Health Organization (WHO) telah menetapkan kecanduan game sebagai gangguan perilaku atau yang disebut dengan gaming disorder. Gangguan ini termasuk ke dalam 11th Revision of the International Classification of Diseases (ICD-11) yang dirilis 18 Juni 2018.

ICD merupakan daftar klasifikasi medis yang dikeluarkan WHO berisi daftar penyakit berikut gejala, tanda, dan penyebabnya. ICD menjadi standar internasional untuk pelaporan penyakit dan kondisi kesehatan dan digunakan oleh seluruh praktisi kesehatan di dunia. Dalam versi terbaru ICD-11, WHO menyebut bahwa kecanduan game merupakan disorders due to addictive behavior atau gangguan yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan. Seseorang yang lebih memprioritaskan bermain game daripada melakukan kegiatan positif yang lain dikatakan behavioral disorder atau gangguan perilaku.

Apa itu Gaming Disorder?

Gaming Disorder (kecanduan game) sebagaimana dikutip dari website resmi WHO adalah pola perilaku bermain, baik permainan online maupun offline (game digital atau video game) dengan beberapa tanda, sebagai berikut:

  1. Tidak dapat mengendalikan keinginan bermain game;
  2. Lebih memprioritaskan bermain game dibandingkan minat terhadap kegiatan atau aktivitas lainnya;
  3. Seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat.

Tercantum pula di dalam web tersebut, kecanduan game bila pola perilaku tersebut sangat kuat dan berdampak terhadap pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan, maupun area penting lainnya, dan terlihat jelas selama setidaknya 12 bulan.

Dengan dimasukkannya kecanduan game ke dalam ICD-11 akan meningkatkan perhatian profesional kesehatan terhadap risiko gangguan kesehatan atas pola perilaku tersebut, sehingga perlu pengembangan tindakan pencegahan dan pengobatan yang relevan.

Waspada Dampak Buruk Kecanduan Game

Sebagaimana ditetapkan WHO, kecanduan game merupakan perilaku addiktif sehingga akan memberi dampak buruk terhadap seseorang. Seseorang yang mengalami adiksi, di samping mengalami keluhan secara fisik juga mengalami perubahan struktur dan fungsi otak. Menurut salah seorang praktisi jiwa, dr. Kristiana Siste, SpKJ(K) dikutip dari laman sehat negeriku (kemnkes RI), pada diri seseorang yang kecanduan game, struktur dan fungsi otaknya mengalami perubahan. Jadi, jika diihat otaknya pake MRI, ada perubahan di bagian otak pre-frontal cortex. Gangguan pada bagian otak tersebut mengakibatkan orang yang mengalami suatu ketergantungan atau kecanduan kehilangan beberapa kemampuan/fungsi otaknya, antara lain fungsi atensi (memusatkan perhatian terhadap sesuatu hal), fungsi eksekutif (merencanakan dan melakukan tindakan) dan fungsi inhibisi (kemampuan untuk membatasi).

Selain itu adanya perubahan otak membuat individu yang kecanduan game sulit mengendalikan perilaku impulsive. Meskipun merasa sudah bosen bermain game namun ia tidak bisa berhenti karena memang otaknya sudah berubah. Otak yang berfungsi untuk menahan perilaku untuk tidak impulsive itu sudah terganggu. Padahal dia sendiri sudah tidak menikmati, tapi tidak bisa berhenti karena kehilangan kontrol.

Selain berperilaku impulsive, bisanya orang yang kecanduan game kehilangan fokus saat mengerjakan sesuatu sehingga berdampak pada prestasi dan produktivitasnya. Emosi yang tidak stabil juga seringkali berdampak buruk pada hubungan relasinya. Sehingga sebagian besar para pecandu game menunjukkan sikap yang anti-sosial.

Sementara itu, dari sisi kesehatan, seringkali mengalami gangguan tidur sehingga mempengaruhi sistem metabolisme tubuhnya, sering merasa lelah (fatigue syndrome), kaku leher dan otot, hingga Karpal Turner Syndrome. Selain itu, kecenderungan sedentary life dan memprioritaskan bermain game dibandingkan aktifitas utama lainnya (misalnya makan), membuat para pecandu game online mengalami dehidrasi, kurus atau bahkan sebaliknya (obesitas) dan berisiko menderita penyakit tidak menular (misalnya penyakit jantung).

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>