Dalam Keadaan Darurat Bencana, Kesehatan Lingkungan Harus Selalu Terjaga

Kesling di pengungsian

Bencana  adalah  peristiwa  atau  rangkaian  peristiwa  yang  mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat  disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Bencana  selalu  menimbulkan  permasalahan, termasuk kesehatan dapat berawal karena kurangnya  air bersih  yang  berakibat  pada  buruknya  kebersihan  diri  dan  sanitasi lingkungan. Hal ini akan berpotensi menimbulkan berbagai jenis penyakit menular, sehingga penanggulangan masalah kesehatan merupakan kegiatan yang harus sesegera mungkin diberikan baik saat terjadi dan paska bencana  disertai pengungsian. Pengelolaan kesehatan lingkungan dalam keadaan darurat di lokasi pengungsian meliputi:

Penyediaan Air Bersih

Air bersih merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi sesuai standar baik jumlah dan kualitasnya untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan akibat persediaan dan kondisi air bersih yang tidak baik. Standar penyediaan air bersih dalam keadaan darurat meliputi:

  • Kebutuhan air bersih 15 liter per orang perhari
  • 1 kran air bersih untuk 80 -100 orang
  • Jarak pemukiman terjauh dari sumber air bersih tidak lebih dari 500 meter

Kualitas air bersih yang digunakan harus memenuhi standar kelayakan air baku sebagai berikut:

  • Kandungan bakteri pada sumber air bersih tidak lebih dari 10 coliform per 100 ml
  • Air bersih harus di desinfektan dahulu sebelum digunakan sebagai air minum
  • Air bersih harus memenuhi persyaratan fisik (bersih dan tidak keruh, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau) dan tidak mengandung bahan kimia beracun
  • Sebelum digunakan harus dilakukan pemeriksaan laboratorium secara kimia dan mikrobiologis.

Pembuangan Kotoran Manusia

Lokasi pengungsian harus memiliki jumlah jamban yang cukup dan jaraknya tidak jauh dari lokasi pengungsian serta mudah di akses. Standar pembuangan kotoran manusia dalam keadaan darurat meliputi:

  • Tiap 1 jamban paling banyak untuk 20 orang
  • Penggunaan jamban diatur berdasarkan perbedaan jenis kelamin
  • Jarak jamban + 50 meter dari lokasi pengungsian
  • Letak jamban dan penampungan kotoran berjarak +30 meter dari sumber air bersih
  • Konstruksi jamban harus kuat dan dilengkapi dengan tutup pada lubang jamban agar tidak menjadi tempat berkembang biak lalat, kecoa, dll
  • 1 (satu) Latrin/jaga untuk 6-10 orang

Pengelolaan Sampah

Lokasi pengungsian harus bebas dari pencemaran sampah. Tempat pembuangan akhir sampah harus jauh dari lokasi pengungsian. Standar pengelolaan sampah dalam keadaan darurat meliputi:

  • Sampah harus ditampung pada tempat sampah keluarga atau sekelompok keluarga
  • Tempat sampah disediakan 2 jenis, untuk sampah basah dan sampah kering
  • Tempat sampah harus ditutup dan mudah dipindahkan/diangkat untuk menghindari lalat serta bau
  • Penempatan tempat sampah maksimum 15 meter dari tempat hunian
  • Sampah harus sudah diangkut ke tempat pembuangan akhir/tempat pembuangan
  • Sementara maksimum dalam waktu 3(tiga) hari

Pengelolaan Limbah Cair

Standar pengelolaan limbah cair dalam keadaan darurat meliputi:

  • Tidak terdapat genangan air di sekitar pemukiman atau sumber air
  • Tempat tinggal, jalan serta prasarana pengadaan air tidak tergenang dan terkikis
  • Air hujan dan luapan air mengalir melalui saluran pembuangan

Pengelolaan Vektor Penyakit

Berbagai jenis vektor seperti lalat, tikus serta nyamuk dapat berkembang dari pengelolaan sampah yang tidak tepat di lokasi pengungsi. Upaya yang dilakukan berupa:

  • Penyediaan sarana pembuangan air limbah (SPAL) dan pembuangan sampah yang baik.
  • Tetap menjaga kebersihan individu selama berada di lokasi pengungsi
  • Bila diperlukan dapat menggunakan insektisida
  • Pembuangan sampah/sisa makanan dengan baik

Pengawasan dan Pengamanan Makanan dan Minuman

Pengelolaan makanan dan minuman pada bencana (untuk konsumsi orang banyak), harus memperhatikan hygiene sanitasi makanan dan minuman untuk mencegah penyakit  diare, disentri, korela, hepatitis A, tifoid dan keracunan makanan dan minuman. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :

  • Peralatan yang dipergunakan untuk menyajikan makanan harus terjaga kebersihannya.
  • Untuk dapur umum, makanan jadi yang disajikan harus diwadahi dengan wadah terpisah sesuai dengan jenis makanannya dan tidak kontak langsung dengan tubuh terutama tangan dan bibir.
  • Makanan yang kandungan proteinnya tinggi dan bersantan tidak boleh disajikan lebih dari 6 jam.
  • Penyajian dilakukan dengan perilaku yang sehat, pakaian rapi dan bersih.
  • Peralatan makan dan minum yang telah dipakai harus segera dicuci kembali agar selalu bersih.
  • Jika menggunakan peralatan makan dan minum sekali pakai, tidak boleh dipakai berulang.
  • Petugas yang menyiapkan makanan harus terlatih dalam higiene dan prinsip menyiapkan makanan secara aman.
  • Petugas yang menyiapkan makanan sebaiknya tidak sedang sakit kuning, diare, muntah, demam, nyeri tenggorok (dengan demam), lesi kulit terinfeksi atau keluarnya discharge dari telinga, mata atau hidung.
  • Petugas kebersihan harus terlatih dalam menjaga kebersihan dapur umum dan area sekitarnya.
  • Air dan sabun disediakan untuk kebersihan personal,
  • Makanan harus disimpan dalam wadah yang melindungi dari tikus, serangga atau hewan lainnya.
  • Di daerah yang terkena banjir, makanan yang masih utuh harus dipindahkan ke tempat kering.
  • Buanglah makanan kaleng yang rusak, atau bocor.
  • Periksa semua makanan kering dari kerusakan fisik, tumbuhnya jamur dari sayuran, buah dan sereal kering.
  • Air bersih untuk menyiapkan makanan.
  • Sarana cuci tangan dan alat makan harus disiapkan.

Tambahkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>