{"id":482,"date":"2022-10-20T12:14:31","date_gmt":"2022-10-20T12:14:31","guid":{"rendered":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/?p=482"},"modified":"2022-10-20T12:20:12","modified_gmt":"2022-10-20T12:20:12","slug":"sosialisasi-frambusia-di-desa-petalongan-wilayah-kerja-uptd-puskesmas-air-molek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/2022\/10\/20\/sosialisasi-frambusia-di-desa-petalongan-wilayah-kerja-uptd-puskesmas-air-molek\/","title":{"rendered":"SOSIALISASI FRAMBUSIA DI DESA PETALONGAN WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS AIR MOLEK"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-484\" src=\"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-20-at-18.59.38-300x135.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"135\" srcset=\"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-20-at-18.59.38-300x135.jpeg 300w, https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-20-at-18.59.38-1024x461.jpeg 1024w, https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-20-at-18.59.38-768x346.jpeg 768w, https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-20-at-18.59.38-1536x691.jpeg 1536w, https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-20-at-18.59.38.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit frambusia, UPTD Puskesmas Air Molek melaksanakan sosialisasi tentang penyakit\u00a0 Frambusia tersebut. Sosialisasi diadakan pada hari Kamis, 18\u00a0 Agustus 2022, sosialiasi diadakan di POLINDES Desa PETALONGAN bersama Bidan Desa, Kader Kesehatan dan masyarakat Desa Petalongan.<\/p>\n<p>Frambusia, biasa disebut Patek atau Bubo adalah penyakit kulit menular menahun yang kambuhan, disebabkan oleh kuman Treponema pertenue. Gejala awalnya berupa benjolan kecil-kecil di kulit yang tidak sakit dengan permukaan basah tanpa nanah.<\/p>\n<div class=\"unique-content\">\n<div class=\"indexstyled__StyledContentWrapper-sglbkl-4 indexstyled__StyledArticleContentWrapper-sglbkl-7 indexstyled__StyledArticleContentWrapperNoAmp-sglbkl-8 JDdJs hdajDG kAhkAb body-content article-content-wrapper\">\n<p>Frambusia adalah suatu infeksi bakteri jangka panjang (kronis) yang paling sering mengenai kulit, tulang, dan sendi. Penyakit ini memiliki tiga stadium, yaitu:<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"article-ad-container\"><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"unique-content\">\n<div class=\"indexstyled__StyledContentWrapper-sglbkl-4 indexstyled__StyledArticleContentWrapper-sglbkl-7 indexstyled__StyledArticleContentWrapperNoAmp-sglbkl-8 JDdJs hdajDG kAhkAb body-content article-content-wrapper\">\n<ul>\n<li><strong>Frambusia stadium 1.<\/strong>\u00a0Sekitar tiga hingga lima minggu setelah seseorang terpapar bakteri penyebabnya, benjolan seperti kelengkeng akan muncul pada kulit, umumnya di kaki atau bokong. Benjolan ini, terkadang disebut frambesioma (atau disebut juga induk frambusia), secara bertahap akan tumbuh besar dan membentuk kerak kuning tipis. Area tersebut bisa terasa gatal dan bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di dekatnya. Benjolan itu biasanya sembuh sendiri dalam enam bulan dan sering meninggalkan luka.<\/li>\n<li><strong>Frambusia stadium 2.<\/strong>\u00a0Stadium berikutnya bisa dimulai sewaktu masih ada frambesioma atau beberapa minggu\/bulan setelah stadium pertama infeksi bakteri ini sembuh. Pada stadium ini, ruam berkerak terbentuk, yang dapat mencakup wajah, lengan, kaki, dan bokong. Telapak kaki juga bisa jadi tertutup oleh koreng tebal yang menyakitkan. Berjalan bisa jadi menyakitkan dan sulit. Meskipun tulang dan sendi juga bisa terkena, kondisi ini di stadium dua biasanya tidak menyebabkan kerusakan pada area ini.<\/li>\n<li><strong>Frambusia stadium 3.<\/strong>\u00a0Stadium akhir dari penyakit ini hanya dialami oleh sekitar 10% orang yang terinfeksi. Kondisi ini dimulai setidaknya 5 tahun setelah frambusia awal muncul. Tahap akhir ini dapat menyebabkan kerusakan parah pada kulit, tulang, dan sendi, terutama di kaki. Frambusia stadium akhir ini juga dapat menyebabkan suatu bentuk kerusakan wajah, yang disebut gangosa atau rhinopharyngitis mutilan karena menyerang dan menghancurkan sebagian hidung, rahang atas, langit-langit mulut (atap mulut) dan bagian tenggorokan yang disebut faring. Jika ada pembengkakan di sekitar hidung, orang dengan frambusia stadium akhir dapat mengalami sakit kepala dan hidung berair\/beringus. Mereka yang telah mencapai stadium 3 juga dapat memiliki penampilan wajah yang disebut goundou.<\/li>\n<\/ul>\n<h3>Seberapa umumkah kondisi ini terjadi?<\/h3>\n<p>Frambusia, atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah\u00a0<em>yaws,<\/em>\u00a0dapat mengenai pasien pada usia berapa pun.\u00a0<i>Yaws\u00a0<\/i>dapat diatasi dengan mengurangi faktor risiko Anda. Diskusikanlah dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.<\/p>\n<h2 id=\"tanda-tanda-dan-gejala\">Tanda-Tanda dan Gejala<\/h2>\n<h3>Apa saja tanda-tanda dan gejala penyakit frambusia?<\/h3>\n<p>Sekitar 2 hingga 4 minggu setelah infeksi, akan muncul kutil yang disebut \u201cinduk frambusia\u201d alias frambesioma di mana bakteri masuk ke kulit. Kutil tersebut bisa berwarna cokelat atau kemerahan dan terlihat seperti buah\u00a0<em>raspberry<\/em>. Biasanya tidak terasa sakit, namun menyebabkan gatal.<\/p>\n<p>Kutil tersebut bisa bertahan selama berbulan-bulan. Lebih banyak\u00a0<a href=\"https:\/\/hellosehat.com\/penyakit\/kutil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kutil\u00a0<\/a>akan muncul segera setelah frambesioma sembuh. Menggaruk kutil dapat membuat bakteri tersebar dari frambesioma ke kulit yang tidak terinfeksi. Pada akhirnya, kutil kulit akan sembuh.<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"article-ad-container\"><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"unique-content\">\n<div class=\"indexstyled__StyledContentWrapper-sglbkl-4 indexstyled__StyledArticleContentWrapper-sglbkl-7 indexstyled__StyledArticleContentWrapperNoAmp-sglbkl-8 JDdJs hdajDG kAhkAb body-content article-content-wrapper\">\n<p>Gejala yang umum dari penyakit frambusia adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Satu pertumbuhan seperti\u00a0<em>raspberry<\/em>\u00a0yang gatal pada kulit (frambesioma), biasanya di kaki atau bokong, yang akhirnya menimbulkan kerak kuning tipis<\/li>\n<li>Pembengkakan kelenjar getah bening (kelenjar bengkak)<\/li>\n<li>Ruam yang membentuk kerak cokelat<\/li>\n<li>Nyeri tulang dan sendi<\/li>\n<li>Benjolan atau kutil yang menyakitkan pada kulit dan pada telapak kaki<\/li>\n<li>Pembengkakan dan kerusakan wajah (pada frambusia stadium akhir)<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah pada dokter.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit frambusia, UPTD Puskesmas Air Molek melaksanakan sosialisasi tentang penyakit\u00a0 Frambusia tersebut. Sosialisasi diadakan pada hari Kamis, 18\u00a0 Agustus 2022, sosialiasi diadakan di POLINDES Desa PETALONGAN bersama Bidan Desa, Kader Kesehatan dan masyarakat Desa Petalongan. Frambusia, biasa disebut Patek atau Bubo adalah penyakit kulit menular menahun yang kambuhan, disebabkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":483,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,4,1],"tags":[],"class_list":["post-482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam-berita","category-terkini","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/482"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=482"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/482\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":485,"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/482\/revisions\/485"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/media\/483"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinkes.inhukab.go.id\/airmolek\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}