Kegiatan

PELATIHAN KADER POSYANDU UNTUK PENCEGAHAN STUNTING PADA BALITA

  • Stunting atau pendek merupakan salah satu masalah gizi kronis yang dialami anak balita di Indonesia.
  • Gambaran prevalensi stunting pada anak balita secara nasional dapat dilihat dari hasil riset kesehatan dasar mulai dari tahun 2007 sampai tahun 2018.
  • 1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting, kurang lebih ada 5 juta anak Indonesia mengalami stunting (Studi Status Gizi Indonesia, 2021).
  • Bila generasi penerus kerap mengalami stunting, akankah Indonesia melihat generasi emas-nya di 2045?
  • Indonesia menargetkan angka stunting turun hingga 14% pada tahun 2024, sementara angka stunting di 23% bayi lahir sudah stunting, maka intervensi harus dimulai sebelum bayi lahir—bahkan sejak perempuan masih di usia remaja.
  • Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang diakibatkan oleh banyak faktor antara lain kekurangan gizi dalam 1000 hari pertama kehidupan, anak sering mengalami sakit, kondisi sosial ekonomi dan gizi ibu saat hamil (Kementerian Kesehatan RI, 2018).
  • Status Stunting pada anak balita dapat diketahui dengan membandingkan hasil pengukuran panjang badan atau tinggi badan dengan standar antropometri untuk anak di Indonesia, nilai z-score di bawah -2 SD dikategorikan stunting.
  • Pada umumnya, stunting terjadi pada balita, khususnya usia 1-3 tahun.
  • Pada rentang usia tersebut, Ibu sudah bisa melihat apakah si anak terkena stunting atau tidak.
  • Prioritas utama atau sasaran dari program pencegahan stunting adalah:
  • 1.Ibu hamil2.Anak-anak usia 0-2 tahun atau rumah tangga dengan seribu hari pertama kelahiran (1.000 HPK).
  • Penyebab Stunting adalah Kurangnya asupan gizi yang diperoleh oleh balita sejak awal masa emas kehidupan pertama, dimulai dari dalam kandungan (9 bulan 10 hari) sampai dengan usia dua tahun. Stunting akan terlihat pada anak saat menginjak usia dua tahun, yang mana tinggi rata-rata anak kurang dari anak seusianya
  • Gejala Stunting pada anak

a.Pertumbuhan tulang pada anak yang tertunda.

b.Berat badan rendah apabila dibandingkan dengan anak seusianya.

c.Sang anak berbadan lebih pendek dari anak seusianya.

d.Proporsi tubuh yang cenderung normal tapi tampak lebih muda/kecil untuk seusianya.

e.Performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar.

f.Tanda pubertas terlambat.

g.Anak menjadi pendiam, sulit melakukan eye contact saat usia 8-10 tahun

h.Mudah mengalami penyakit infeksi.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STUNTING

Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti:

vKondisi sosial ekonomi

vGizi ibu saat hamil

vKesakitan pada bayi

Kurangnya asupan gizi pada bayi

DAMPAK BURUK DARI STUNTING

-Dampak jangka pendek dari stunting antara lain:

ØPeningkatan kesakitan karena daya tahan tubuh anak menurun, disertai perkembangan

ØKognitif, motorik dan verbal anak tidak optimal.

-Dampak jangka panjang stunting antara lain:

Ø Postur tubuh tidak optimal

ØMeningkatkan risiko penyakit tidak menular

ØKemampuan belajar dan produktifitas kerja tidak optimal

GAP DALAM PERMASALAHAN STUNTING DI INDONESIA

–8,3 juta dari 12,1 juta remaja putri tidak mengkonsumsi tablet tambah darah dan berisiko anemia

–2,8 juta dari 4,9 juta Ibu hamil tidak periksa kehamilan minimal 6x

–Hanya 46.000 dari 300.000 Posyandu aktif beroperasi

–6,5 juta dari 22 juta balita tidak dipantau pertumbuhan dan perkembangannya

–1.5 juta relawan kader belum memiliki standardisasi kemampuan

UPAYA PENCEGAHAN STUNTING PADA ANAK BALITA

  • Menjaga kesehatan dan asupan gizi yang memadai pada masa 1000 hari pertama kehidupan
  • Imunisasi
  • Kebiasaan hidup bersih dan sehat
  • Memantau pertumbuhan anak balita di posyandu

-Langkah utama perubahan perilaku adalah mengedukasi masyarakat mengenai perbaikan pola pemberian makan, dimulai dari:

    • sebelum menjadi ibu (remaja)
    • saat hamil
    • masa bayi dan anak sampai usia dua tahun
    • Saat bayi baru lahir diupayakan untuk mendapat colostrum dan dilanjutkan dengan ASI eksklusif selama 6 bulan.
    • Setelah bayi berumur 6 bulan, bayi diberi makanan pendamping ASI yang bergizi seimbang dan
    • Dilanjutkan dengan pemberian makanan bergizi seimbang terutama sampai anak berusia dua tahun

PENGOBATAN STUNTING

adalah dengan:

  • Mengatasi Penyakit Penyebabnya
  • Memperbaiki Asupan Nutrisi
  • Memberikan Suplemen
  • Menerapkan Pola Hidup Bersih Dan Sehat

UPAYA PENANGANAN STUNTING

Dirumuskan dalam sebuah program bernama pencegahan dan percepatan penanggulangan stunting terintegrasi, meliputi beberapa kegiatan, yaitu:

üPosyandu balita dan ibu hamil

üPosyandu remaja

üKunjungan pendamping keluarga

üKelas balita stunting dan kelas parenting

MENCEGAH STUNTING PADA ANAK

  • Memberikan ASI eksklusif pada bayi hingga berusia 6 bulan.
  • Memantau perkembangan anak dan membawa ke posyandu secara berkala.
  • Mengkonsumsi secara rutin Tablet tambah Darah (TTD)
  • Memberikan MPASI yang begizi dan kaya protein hewani untuk bayi yang berusia diatas 6 bulan.

KADER KESEHATAN

  • Kader kesehatan desa adalah orang-orang yang dipilih oleh masyarakat desa untuk membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya.
  • Kader kesehatan desa bekerja secara sukarela dan bertanggung jawab atas berbagai program kesehatan yang diselenggarakan di desa, seperti posyandu, posbindu, dan ppkbd.
  • Kader kesehatan desa memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan jenis program yang mereka tangani, namun secara umum mereka berperan sebagai pelaksana, penggerak, penyuluh, pemantau, konselor, dan pendamping bagi masyarakat desa.

JENIS JENIS KADER

Kader Posyandu

  • Posyandu adalah singkatan dari Pos Pelayanan Terpadu, yaitu kegiatan pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan setiap bulan di desa untuk melayani ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan lansia. Kader posyandu adalah kader kesehatan yang berperan dan bertugas di posyandu dengan melakukan empat langkah pelayanan dari lima pelayanan yang ada, yaitu:
  • Kader Posbindu
  • Posbindu adalah singkatan dari Pos Pembinaan Terpadu, yaitu kegiatan pelayanan kesehatan yang dilakukan setiap tiga bulan di desa untuk melayani masyarakat yang berisiko terkena penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes, jantung, stroke, asma, dan kanker.

PERAN KADER DALAM PENURUNAN ANGKA STUNTING

  • Mengingatkan dan menyadarkan orang tua untuk melakukan hal-hal yang sangat penting bagi balita seperti asi eklusif, MPASI yang tepat dan menjaga hygene sanitasi agar sejak bayi,balita mendapati asupan gizi yang cukup dan terhindar dari penakit infeksi.
  • Melakukan sosiaisasi edukasi gizi kesehataan kepada ibu hamil dan orangtua balita mulai dari memantau pertumbuhan bayi balita setiap bulan di posyandu dan memantau tinggi badan menurut umur balita yang merupakan upaya untuk mendeteksi dini kejadian stunting.
  • Merupakan pilar utama dan garis pertahanan terdepan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat karena para kaderlah yang memahami karakteristik masyarakat di wilayahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *